Hubungan Agama dan Ilmu Pengetahuan

 

Hubungan Agama dan Ilmu Pengetahuan


Ilmu menurut Baharudin ilmu adalah pengetahuan yang terorganisir yang didasarkan pada observasi (Baharudin, 2011). Sedangkan di dalam kamus besar Indonesia atau yang biasa disingkat dengan kata KBBI dijelaskan bahwa ilmu memiliki dua pengertian. Pertama, ilmu diartikan sebagai suatu pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu dibidang pengetahuan tersebut seperti ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan lain sebagainya. Kedua, ilmu diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang duniawi, akhirat, lahir, bathin, dan sebagainya seperti ilm akhirat, ilmu akhlak, ilmu bathin, ilmu shir, dan lain sebagainya.

Dari pengertian ilmu yang pertama, memberikan kita gambaran bahwa suatu bidang dapat dikatakan ilmu apabila mempunyai sistem atau bagian-bagian pendukung. Sedangkan, pengertian kedua penekanannya lebih kepada pemahaman/kepandaian terhadap obyek imu. Jujun S.Suriasumantri berpendapat bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang digali sejak Sekolah Dasar (SD) sampai pendidikan lanjutan dan Perguruan Tinggi (PT) (Suriasumantri, 1999).

Lexy J. Moleong berpendapat bahwa ilmu sebagai pengetahuan yang didapatkan melalui proses kegiatan ilmiah (Moleong, 2001). Dengan demikian, ilmu dalam pengertian ini didasarkan pada suatu argumentasi dan suatu fakta yang berdasarkan pada nilai-nilai kebenaran.

Agama menurut Burhanudin Salam, merupakan kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya yang menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat didasari dengan akal (Salam, 1988).  Agama juga dapat kita artikan dengan keyakinan yang sangat emosional akan adanya suatu daya pikir yang luhur yang dinyatakan dalam alam semesta yang tidak dapat dipahami.

Qurasih Shihab juga mengartikan agama bersifat khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwa seseorang dan mustahil bagi orang lain memberi petunjuk apabila jiwa sendiri tidak memberitahunya, memperhatikan pendapat ini, tergambar jelas bahwa masalah agama adalah keyakinan yang bersemayam dalam jiwa, karena bathini (jiwa) mampu merasakan kebenaran yang mendalam (Shihab, 1995). Agama juga merupakan ketetapan-ketetapan ilahi yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dijadikan pedoman atau pegangan hidup manusia.

Definisi-definisi yang telah disampaikan diatas bisa kita pahami bahwa terdapat beberapa faktor yang berkaitan dengan agama yaitu: yang pertama, faktor Tuhan sebagai pemberi ketetapan, kedua wahyu sebagai ajaran, ketiga para Nabi sebagai perantara antara Tuhan dan manusia, untuk menyampaikan wahyu atau risalah-risalah kebenaran. Asif Iqbal Khan mengemukakan bahwa agama diartikan sebagai dua pihak yang berbeda kasta. Tuhan, sebagai penguasa, yang berkuasa penuh atas makhluk-makhluknya (Khan, 2002).  Agama merupakan penuntun arah meuju tujuan yang hakiki.

Untuk memberikan gambaran dan argumentasi yang lebih jelas mengenai definisi agama, dalam buku Jalaluddin Rahmat yang berjudul Encyclopedia of Philosophy menjelaskan tentang karakteristik agama, yaitu: Pertama, kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan), Kedua. pembedaan antara obyek sakral dan profan, Ketiga. tindakan ritual yang berpusat pada obyek. Keempat tuntutan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan. Kelima perasaan yang khas agama atau ketakjuban, perasaan misteri, rasa bersalah, pemujaan yang cenderung bangkit di tengah-tengah obyek sakral atau ketika menjalankan ritual, dan yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan. Keenam sembahyang dan bentukbentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan, ketujuh padangan dunia atau gambaran umum tentang dunia, cara keseluruhan dan tempat individu di dalamnya. Kedelapan pengelolaan kehidupan yang bersifat menyeluruh, yang didasarkan pada pandangan dunia, dan kesembilan kelompok sosial yang diikat bersama oleh hal-hal di atas (Rahmad, 2003).

 1.1  Kaitan Ilmu dan Agama

 

Menurut Ian G. Barbour, dalam prakata bukunya yang

sangat terkenal, menyebutkan bahwa ketika agama pertama kali berjumpa dengan sains modern pada ke-17 ternyata keduanya menikmati perjumpaan tersebut dengan penuh persahabatan yang erat. Pada saat itu, mayoritas penggagas revolusi ilmiah adalah orang-orang Kristen taat yang memiliki keyakinan bahwa tujuan kerja ilmiah pada hakikatnya adalah mempelajari ciptaan Tuhan.

Perkembangan abad ke-18 diwarnai dengan munculnya beberapa ilmuwan yang berkeyakinan bahwa Tuhan Sang Perancang alam semesta bukan lagi Tuhan yang personal, yang aktif terlibat dalam kehidupan manusia dan alam semesta. Pada abad ke-19 mulai bermunculan ilmuwan yang mengabaikan pentingnya agama, walaupun Darwin, sebagai penggagas teori evolusi yang menggemparkan dan berimbas pada krisisnya kepercayaan orang pada entitas Tuhan dan agama, masih tetap berkeyakinan bahwa proses evolusi sesungguhnya adalah kehendak Tuhan itu sendiri.

Akibatnya, pada abad ke-20 interaksi antara sains dan agama secara perlahan mengalami keragaman bentuk secara dinamis. Temuan-temuan baru para saintis mengundang respon dari agamawan yang tetap berusah mempertahankan gagasan-gagasan keagamaan klasik. Sebagai bentuk responnya, sebagian tetap berupaya berpegang pada doktrin tradisional, namun sebagian lain mulai berani meninggalkan tradisi lama, serta sebagian yang lain berinisiatif merumuskan kembali konsep keagamaannya secara ilmiah. Menurut Barbour, memasuki era milenium bermunculan secara masif minat terhadap isu-isu tersebut di kalangan saintis, teolog, media, dan masyarakat umum(2002: 3).

Relasi ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu dirisaukan dan bahkan menjadi suatu kebutuhan antara Keduanya. Dalam kajian Islam, semua ”kebenaran” berasal dari Tuhan. Kebenaran agama berasal dari Allah Yang kemudian kebenaran berwujud firmân (ayat qawlî), dan kebenaran ilmu pengetahuan (natural sciences, Social sciences, and human sciences) berwujud realitas empiris (ayat kauni). Hakekatnya keduanya Berasal/bersumber dari Allah, maka kebenaran keduanya tidak akan berbeda apalagi bertentangan. Jika Dalam hal realitas empirik dan agama terjadi pertentangan, maka ada dua kemungkinan; yaitu: (1) ilmu Pengetahuan (sains) dan agama belum menemukan kebenaran final (masih dalam proses Berkembang),atau(2) pemahaman manusia terhadap wahyu qawlî belum menemukan pemahaman yang Tepat sesuai ilmu Allah dimaksud (Wasim, 2006: 1)

Allah menciptakan manusia di muka bumi ini bukan tiada tujuan dan visi, sebagaimana yang telah dijelaskan didalam Al-Qur’an bahwa tujuan dari penciptaannya manusia agar dapat menjadi Khalifah yang kemudian mengatur, memakmurkan dan menerapkan hukum-hukum Allah di atas muka bumi.Manusia diciptakan ke muka bumi karena telah diberi mandat oleh Allah untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Di dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30 Allah SWT berfirman:

 

وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ‌ؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَاتَعۡلَمُوۡنَ

 

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Tugas utama manusia diciptakan di muka bumi setidaknya ada dua hal yang penting. Pertama, menjaga dan melestarikan keadaan muka bumi, jangan sampai ada kerusakan yang terjadi di dalamnya. Mereka telah diberikan akal sehingga dapat menjalankan perintah pertama ini.Dan kedua, menjalankan perintah agama atau syariat Allah. Dengan melakukannya maka manusia akan menjadi mulia bahkan bisa melebihi mulianya malaikat. Manusia bisa menjadi memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding malaikat manakala dapat menjalankan peranannya di muka bumi. Untuk menunaikan dua tugas penting diatas manusia memerlukan yang namanya ilmu pengetahuan untuk membantu dan terus membuka cakrawala.

Untuk membuka cakrawala perlu kunci yang kita kenal dengan membaca. Wahyu pertama kali turun sangat kuat hubungannya dengan ilmu yang memerintahkan kita untuk membaca  اقرأ, ia merupakan perintah yang menjadi step awal untuk mendapatkan ilmu. Dengan ini dapat kita katakan agama dan ilmu pengetahuan mempunyai kaitan yang sangat kuat dan tidak dapat dilepaskan satu dengan yang lainnya. Sehingga ini menjadi bukti bahwa Agama (Islam) Melihat ilmu pengetahuan dengan mata positif dan  menempatkan ilmu di tingkat yang yang tinggi.

Komentar

Postingan Populer