Hubungan Agama dan Ilmu Pengetahuan
Hubungan Agama dan Ilmu Pengetahuan
Ilmu menurut Baharudin ilmu adalah pengetahuan
yang terorganisir yang didasarkan pada observasi
Dari pengertian ilmu yang pertama, memberikan
kita gambaran bahwa suatu bidang dapat dikatakan ilmu apabila mempunyai sistem
atau bagian-bagian pendukung. Sedangkan, pengertian kedua penekanannya lebih kepada
pemahaman/kepandaian terhadap obyek imu. Jujun S.Suriasumantri berpendapat
bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang digali sejak Sekolah Dasar (SD) sampai
pendidikan lanjutan dan Perguruan Tinggi (PT)
Lexy J. Moleong berpendapat bahwa ilmu sebagai
pengetahuan yang didapatkan melalui proses kegiatan ilmiah
Agama menurut Burhanudin Salam, merupakan
kegiatan mengagumi dengan rendah hati roh yang tiada terbatas luhurnya yang
menyatakan dirinya dalam bagian yang kecil-kecil yang dapat didasari dengan
akal
Qurasih Shihab juga mengartikan agama bersifat
khusus, sangat pribadi, sumbernya adalah jiwa seseorang dan mustahil bagi orang
lain memberi petunjuk apabila jiwa sendiri tidak memberitahunya, memperhatikan
pendapat ini, tergambar jelas bahwa masalah agama adalah keyakinan yang
bersemayam dalam jiwa, karena bathini (jiwa) mampu merasakan kebenaran yang
mendalam
Definisi-definisi yang telah disampaikan
diatas bisa kita pahami bahwa terdapat beberapa faktor yang berkaitan dengan
agama yaitu: yang pertama, faktor Tuhan sebagai pemberi ketetapan, kedua wahyu
sebagai ajaran, ketiga para Nabi sebagai perantara antara Tuhan dan manusia,
untuk menyampaikan wahyu atau risalah-risalah kebenaran. Asif Iqbal Khan mengemukakan bahwa agama diartikan sebagai dua pihak yang berbeda kasta.
Tuhan, sebagai penguasa, yang berkuasa penuh atas makhluk-makhluknya
Untuk memberikan gambaran dan argumentasi yang
lebih jelas mengenai definisi agama, dalam buku Jalaluddin Rahmat yang berjudul
Encyclopedia of Philosophy menjelaskan tentang karakteristik agama, yaitu:
Pertama, kepercayaan kepada wujud supranatural (Tuhan), Kedua. pembedaan antara
obyek sakral dan profan, Ketiga. tindakan ritual yang berpusat pada obyek.
Keempat tuntutan moral yang diyakini ditetapkan oleh Tuhan. Kelima perasaan
yang khas agama atau ketakjuban, perasaan misteri, rasa bersalah, pemujaan yang
cenderung bangkit di tengah-tengah obyek sakral atau ketika menjalankan ritual,
dan yang dihubungkan dengan gagasan ketuhanan. Keenam sembahyang dan bentukbentuk komunikasi lainnya dengan Tuhan,
ketujuh padangan dunia atau gambaran umum tentang dunia, cara keseluruhan dan
tempat individu di dalamnya. Kedelapan pengelolaan kehidupan yang bersifat
menyeluruh, yang didasarkan pada pandangan dunia, dan kesembilan kelompok
sosial yang diikat bersama oleh hal-hal di atas
Menurut Ian G. Barbour, dalam prakata bukunya
yang
sangat terkenal, menyebutkan bahwa ketika
agama pertama kali berjumpa dengan sains modern pada ke-17 ternyata keduanya
menikmati perjumpaan tersebut dengan penuh persahabatan yang erat. Pada saat
itu, mayoritas penggagas revolusi ilmiah adalah orang-orang Kristen taat yang
memiliki keyakinan bahwa tujuan kerja ilmiah pada hakikatnya adalah mempelajari
ciptaan Tuhan.
Perkembangan abad ke-18 diwarnai dengan
munculnya beberapa ilmuwan yang berkeyakinan bahwa Tuhan Sang Perancang alam semesta
bukan lagi Tuhan yang personal, yang aktif terlibat dalam kehidupan manusia dan
alam semesta. Pada abad ke-19 mulai bermunculan ilmuwan yang mengabaikan
pentingnya agama, walaupun Darwin, sebagai penggagas teori evolusi yang menggemparkan
dan berimbas pada krisisnya kepercayaan orang pada entitas Tuhan dan agama,
masih tetap berkeyakinan bahwa proses evolusi sesungguhnya adalah kehendak
Tuhan itu sendiri.
Akibatnya, pada abad ke-20 interaksi antara
sains dan agama secara perlahan mengalami keragaman bentuk secara dinamis.
Temuan-temuan baru para saintis mengundang respon dari agamawan yang tetap
berusah mempertahankan gagasan-gagasan keagamaan klasik. Sebagai bentuk responnya,
sebagian tetap berupaya berpegang pada doktrin tradisional, namun sebagian lain
mulai berani meninggalkan tradisi lama, serta sebagian yang lain berinisiatif
merumuskan kembali konsep keagamaannya secara ilmiah. Menurut Barbour, memasuki
era milenium bermunculan secara masif minat terhadap isu-isu tersebut di
kalangan saintis, teolog, media, dan masyarakat umum(2002: 3).
Relasi ilmu pengetahuan dan agama tidak perlu
dirisaukan dan bahkan menjadi suatu kebutuhan antara Keduanya. Dalam kajian
Islam, semua ”kebenaran” berasal dari Tuhan. Kebenaran agama berasal dari Allah
Yang kemudian kebenaran berwujud firmân (ayat qawlî), dan kebenaran ilmu
pengetahuan (natural sciences, Social sciences, and human sciences) berwujud
realitas empiris (ayat kauni). Hakekatnya keduanya Berasal/bersumber dari
Allah, maka kebenaran keduanya tidak akan berbeda apalagi bertentangan. Jika
Dalam hal realitas empirik dan agama terjadi pertentangan, maka ada dua
kemungkinan; yaitu: (1) ilmu Pengetahuan (sains) dan agama belum menemukan kebenaran
final (masih dalam proses Berkembang),atau(2) pemahaman manusia terhadap wahyu
qawlî belum menemukan pemahaman yang Tepat sesuai ilmu Allah dimaksud (Wasim,
2006: 1)
Allah menciptakan manusia di muka bumi ini
bukan tiada tujuan dan visi, sebagaimana yang telah dijelaskan didalam
Al-Qur’an bahwa tujuan dari penciptaannya manusia agar dapat menjadi Khalifah
yang kemudian mengatur, memakmurkan dan menerapkan hukum-hukum Allah di atas
muka bumi.Manusia diciptakan ke muka bumi karena telah diberi mandat oleh Allah
untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Di dalam QS. Al-Baqarah Ayat 30 Allah SWT
berfirman:
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ
فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ
الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ
مَا لَاتَعۡلَمُوۡنَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan
menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan
nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Tugas utama manusia diciptakan di muka bumi
setidaknya ada dua hal yang penting. Pertama, menjaga dan melestarikan keadaan
muka bumi, jangan sampai ada kerusakan yang terjadi di dalamnya. Mereka telah
diberikan akal sehingga dapat menjalankan perintah pertama ini.Dan kedua,
menjalankan perintah agama atau syariat Allah. Dengan melakukannya maka manusia
akan menjadi mulia bahkan bisa melebihi mulianya malaikat. Manusia bisa menjadi
memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding malaikat manakala dapat
menjalankan peranannya di muka bumi. Untuk menunaikan dua tugas penting diatas
manusia memerlukan yang namanya ilmu pengetahuan untuk membantu dan terus
membuka cakrawala.
Untuk membuka cakrawala perlu kunci yang kita
kenal dengan membaca. Wahyu pertama kali turun sangat kuat hubungannya dengan
ilmu yang memerintahkan kita untuk membaca
اقرأ, ia merupakan perintah yang menjadi step awal untuk mendapatkan
ilmu. Dengan ini dapat kita katakan agama dan ilmu pengetahuan mempunyai kaitan
yang sangat kuat dan tidak dapat dilepaskan satu dengan yang lainnya. Sehingga
ini menjadi bukti bahwa Agama (Islam) Melihat ilmu pengetahuan dengan mata
positif dan menempatkan ilmu di tingkat
yang yang tinggi.

Komentar
Posting Komentar