PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN (QUR’AN SURAT AT-TAHRIM AYAT 6)

 

PENDIDIKAN KELUARGA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN

(QUR’AN SURAT AT-TAHRIM AYAT 6)


KEWAJIBAN MENJAGA KESELAMATAN KELUARGA DALAM SURAT AT-TAHRIM AYAT 6

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

 

“Wahai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah” (AL-Qur'an Surat AT-Tahrim ayat 6). Ayat ini terdapat dalam surat AT-Tahrim ayat 6, surat ini sendiri terdiri dari 12 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, dan diturunkan sesudah surat al-Hujurat.

Menurut pendapat Quraish Shihab Ayat ini memberi tuntunan kepada orang-orang yang beriman untuk memelihara diri dan keluarga (istri, anak, dan semua yang menjadi tanggung jawabnya), antara lain dengan mencontoh dan meneladani Nabi, dengan membimbing serta mendidik mereka agar semua bisa terhindar dari neraka yang berbahan bakar manusia-manusia kafir dan juga batu-batu yang dijadikan berhala. Yang menjadi penjaga dalam neraka tersebut adalah para malaikat yang kasar-kasar hati dan perlakuannya dalam melaksanakan tugas penyiksaan, serta tidak mendurhakai Allah menyangkut apa yang diperintahkan kepada mereka, sehingga siksa yang mereka jatuhkan (kendati kasar) tapi tidak kurang ataupun lebih dari apa yang diperintahkan Allah, yakni sesuai dengan dosa dan kesalahan masing-masing penghuni neraka dan mereka senantiasa mengerjakan perintah Allah dengan mudah (Shihab, 2002).

Wahai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka. (pangkal ayat 6)

Pada pangkal ayat ini dijelaskan bahwa semata-mata mengaku beriman saja belumlah cukup, iman mestilah dipelihara dan dippuk. Terutama sekali dengan dasar iman hendaklah orang menjaga keselamatan diri dan seisi rumah tangga dari api neraka (HAMKA, 2015).  Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Ayat ini juga memerintahkan kepada kita bahwa perintahkanlah keluarga yang terdiri dari istri, anak-anak, saudara, kerabat untuk taat kepada ALLAH SAW. Dan kamu larang dirimu beserta semua orang yang berada dibawah taggung jawabmu untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada ALLAH SAW. Kamu ajari dan didik mereka serta pimpinn mereka untuk melaksanakannya dan kamu bantu mereka untuk merealisasikannya. Bila kamu melihat ada yang berbuat maksiat kepada ALLAH SAW maka cegah dan larang mereka. Ini merupakan kewajiban setiap muslim, yaitu mengajarkan kepada orang yang berada di bawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan dan dilarang oleh ALLAH SAW (ar-Rifa'i, 2011).

“Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Batu-batu aadalah barang yang tidak berharga yang tercampak dan tersebar dimana-mana. Pada bukit-bukit dan munggu-munggu yang bertebaran di padang pasir terdapatlah beronggok-onggok batu, maka batu  inilah yang digunakan untuk menjadi kayu api penyalakan api neraka (HAMKA, 2015). Pada tafsir lain Ibnu Katsir disebutkan juga bahwa kayu bakarnya adalah manusia dan jin, batu yang digunakan adalah batu belerang, batu yang baunya lebih busuk dari bangkai (ar-Rifa'i, 2011).

“Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras”. Disebutkan bahwa ALLAH SAW memberikan kekuasaan kepada malaikat-malaikat itu menjaga dan mengawal neraka itu agar apinya selalu nyala, dan alat pembakarnya selalu tersedia baik batu maupun manusia. Sikap malaikat-malaikat pengawal dan penjaga neraka mesti kasar, tidak ada lemah lembutnya, keras sikapnya, tidak ada tenggang-menenggang karena itulah sikap yang sesuai dengan suasana api neraka sebagai tempat yang disediakan oleh ALLAH SAW untuk menghukum orang-orang yang bersalah (HAMKA, 2015).  Pada kitab tafsir Ibnu Katsir dijelaskan juga bahwa malaikat-malaikat tersebut memiliki tabiat yang kasar. Allah telah mencabt rasa kasih sayang dari hati mereka terhadap orang-orang kafir. “yang keras” yaitu susunan tubuh mereka yang sangat keras, tebal, dan penampilannya yang sangat mengerikan. Wajah-wajah mereka hitam dan taring-taring mereka menakutkan, tidak tersimpan rasa kasih sayang pada hati mereka terhadap orang-orang kafir walaupun sebesar biji dzarrah (ar-Rifa'i, 2011). 

 

“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah”. Yaitu, mereka tidak pernah menangguhkan bila datang perintah dari ALLAH SAW walaupun sekejap mata, padahal mereka bisa saja melakukan hal itu dan mereka tidak mengenal lelah. Mereka itulah malaikat Zabaniah (ar-Rifa'i, 2011).

Adapun tafsir dari Prof. Buya Hamka yang menafsirkan ujung dari ayat tersebut bahwa betapa kerasnya disiplin dan peraturan yang dijalani oleh para malaikat-malaikat itu. Sangat jelas terlhat bahwa mereka semua hanyalah semata-mata menjalankan perinta Allah dengan pauh dan setia. Inilah yang diperingatkan kepada orang beriman bahwa mengakui beriman saja tidaklah cukup kalau tidak memelihara diri (HAMKA, 2015).

 

ANALISA

Berdasarkan tafsir yang digunakan sebagai landasan dalam tugas ini. Tafsir dari dari Ibnu Katsir dan tafsir AL-Azhar karangan  Buya Hamka sama-sama bersepakat bahwa setiap kita wajib menjaga keluarga kita dari api neraka. Keluarga yang dimaksud adalah bisa jadi keluarga yang memiliki hubungan darah ataupun keluarga seiman seagama agar terhindar dari bahaya yang mengancam bahwa manusia menjadi bahan bakar di neraka nantinya.

1.      Tafsir AL-Azhar karangan Buya hamka menerangkan bahwa Allah memberi Peringatan kepada orang-orang yang beriman, bahwa mengaku beriman saja tidaklah cukup jika tidak mau memelihara diri, jangan sampai kelak masuk neraka yang sangat panas dan keras siksanya, serta dijadikan bahan bakar api neraka, jika tidak ingin seperti ini maka kita harus menjaga dan mendidik keluarga kita agar terhindar dari bahaya tersebut. pendidikan keluaraga berasal atau bermula sejak memilih pasangan dalam berumah tangga. Sehingga, Allah saw menghadapkan seruannya kepada orang-orang yang beriman, bagaimana pula sikap mereka dalam menegakan rumah tangga. Sebab, dari rumah tangga itulah dimulai menanamkan iman dan memupuk islam.

2.      Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kewajiban bagi setiap manusia untuk menjaga keluarganya agar terhindar dari api neraka. Apabila kita melihat keluarga kita melakukan kesilapan yang fatal atau yang bisa menjerumuskan ke dalam api neraka atau menjadi bahan bakarnya maka sudah sepatutnya kita untuk menegur dan membantu mereka untuk keluar dari kesesatan itu. Kita bertanggung jawab menjahuhkan larangan allah dari keluarga kita serta mendekatkan keluarga kita pada perintah Allah saw.

Sebelum menjaga keluarga dari api neraka kita bisa mengawalinya dengan menjaga diri kita terlebih dahulu yaitu memupuk keimanan pada diri sendiri, menjadi pemimpin baik untuk memimpin diri sendiri agar bisa bertanggung jawab menjaga keluarga agar terhindar dari siksa api neraka. Cara-cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari ancaman itu adalah

1.      Senantiasa memelihara dan memupuk keimanan dan keislaman diri.

2.      Mencegah kemungkaran dan mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar.

3.      Mendidik atau mengajar keluarga melalui nasehat-nasehat baik.

4.      Selalu menjadi teladan bagi keluarganya dan membimbing keluarga.

5.      Melalui perintah atau saling mengingatkan untuk selalu bertaqwa melaksanakan perintah Allah untuk melakukan ibadah-ibadah yang telah diwajibkan, seperti shalat, puasa, zakat dan sebagainya.

 

KESIMPULAN

Dari rumah tangga itulah dimulai menanamkan iman dan memupuk Islam. Karena dari rumah tangga itulah akan terbentuk umat. Dan dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam. Masyarakat Islam ialah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap alam. Oleh sebab itu maka seseorang yang beriman tidak bolehlah pasif, artinya berdiam diri menunggu-nunggu saja. Kita diperingatkan bahwa mula-mula patutlah kita menjaga dan memelihara diri sendiri lebih dahulu supaya jangan masuk neraka. Setelah itu memelihara seluruh isi rumah tangga, istri dan anak-anak. Dengan ayat ini dijelaskan bahwa iman itu mula ditumbuhkan pada diri pribadi.


Komentar

Postingan Populer