PERAN LINGKUNGAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTI ISLAM

 

PERAN LINGKUNGAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTI ISLAM


Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat itiadat, dan estetika (Samani, M., & Hariyanto, 2013).

Tata krama, etika, dan kreaktifitas siswa saat ini disinyalir kian turun akibat melemahnya pendidikan budaya dan karakter bangsa, padahal pendidikan karakter ini menjadi salah satu kurikulum pendidikan yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah (Muschlis, 2011).

Secara umum, seseorang sering mengalokasikan istilah karakter dengan apa yang mereka sebut tempramen yang berarti penekanan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sesorang juga bisa dinilai melalui kaca mata behavior. Pada kamus psikologi karakter diartikan sebagai kepribadian seseorang yang ditinjau dari moralitas seseorang (Madjid, 2011).

Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan sikap pribadi seseorang yang dinyatakan dengan tindakan seseorang. Seseorang yang memiliki pribadi yang berkarakter tidak hanya cerdas secara lahir dan batin melainkan seseorang mampu menjalankan yang dipandang benar dan sesuai dengan norma-norma yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi beberapa komponen salah satunya adalah kesadaran atau kemauan. Menurut Doni A. Koesoema, pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan secara perorangan atau individu dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan serta kebebasan individu itu sendiri (Koesoema).

Dasar-dasar Pembentukan Karakter.

Merurut Agus Wibowo dalam pembentukan karakter ada beberapa sendi karakter baik dan karakter buruk. Karakter baik dan karakter buruk, karakter yang baik didasarkan pada (Wibowo, 2012):

1.      Sabar, maksudnya adalah menahan diri dari kemarahan, serta menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain.

2.      Kehormatan diri, selain sabar, hendaklah juga kita mampu menjaga diri dan menjahui hal-hal yang hina.

3.      Keberanian, yang berarti mendorong diri agar berjiwa besar.

4.      Adil, artinya adalah berada di tengah-tengah, atau tidak berat sebelah.

Adapun karakter buruk yang juga didasari oleh 4 sedia diantaranya:

1.      Kebodohan, yang memperlihatkan keburukan dalam rupa kebaikan, begitu seterusnya.

2.      Kezaliman, yang melakukan sesuatu tidak pada tempatnya, yang menyalahi suatu perkara padahal seharusnya diridhai

3.      Syahwat, yang mendorok diri untuk melakukan hal-hal buruk

4.      Marah, sebuah sifat yang mendorong seseorang bersikap dengki, takabur, serta iri.

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan dan karakter seseorang, faktor-faktor ini sangat krusial terhadap perkembangan anak. Menurut (Budiyono) faktor-faktornya adalah:

1.      Konsistensi dalam mendidik: orang tua harus konsisten terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan pada anak, hal-hal yang enjadi ketetapan peraturan pada anak maka harus terus dijalankan.

2.      Sikap orang tua dalam keluarga: dalam sebua keluarga secara tidak langsung sikap orang tua termaksud sikap ayah pada ibu maupun sebaliknya sangat mempengaruhi karakter anak.

3.      Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut: orang tua menjadi role modelbagi anak, sudah sepatutnya dalam hal religious orang tua mengajarkan serta mengamalkan hal-hal baik agar bisa membentuk karakter anak

4.      Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma: karena orang tua adalah panutan bagi anak maka sudah sepatutnya orang tua juga melakukan hal-hal yang diterapkan pada anak. Bukan hanya menyuru anak tetapi juga mencontohkan.

dari poin-poin yang telah disebutkan di atas menunjukan bahwa pendidikan merupakan upaya dasar untuk menumbuhkan budi pekerti pada anak. Dan tujuan pendidikan mengisyaratkan bahwa pendidikan hendak diwujudkan dengan cita-cita peserta didik memiliki berbagai kecerdasan, baik secara spiritual, emosional, maupun sosial.

Konsep Lingkungan dalam Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Islam

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang peling penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Lingkungan yang baik akan berpengaruh positif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, begitupun sebaliknya lingkungan yang tidak baik akan memberi dampak negativ pada anak. Kaum empris, berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat ditentukan oleh lingkungan. Manusia dapat berkembang menjadi apa saja kearah yang baik maupun kearah yang buruk, sangat ditentukan oleh faktor lingkungan (Sutarto, 2019).  Sebagaimana dengan sabda Nabi Muhammad saw. sebagai berikut:

Adam telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman  dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi Shallallahu'AlaihiWasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana hewan ternak yang melahirkan hewan ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya”.  (1296).

Hadist diatas memberi kabar bahwa, perkembangan anak dapat ditentukan oleh pengaruh lingkungan.  Sehingga memberikan lingkingan yang baik terhadap anak sangat penting, yaitu lingkungan yang sesuai dengan pendidikan islam.

Lingkungan merupakan sestem yang tidak bisa dilepas pisahkan antara satu dengan lain, terdiri dari kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan prilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan serta kesejatraan dengan mahluk hidup lainnya. Seorang pisikolog dari Amerika mengatakan bahwa, lingkungan pada dasarnya meliputi semua kondisi dan alam dunia ini dengan cara-cara tertentu dapat mempengaruhi tingkah laku individu, dan pertumbuhan perkembangan atau life processes (Sutarto, 2019).

Lingkungan pendidikan Islam dapat mencakup lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan yang nyaman dan mendukung terselenggaranya suatu pendidikan yang amat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap capaian tujuan pendidikan yang di inginkan. Zakiah Darajat, mengatakan lingkungan pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang meliputi proses berlangsungnya pendidikan islam, alam segi sosial dan budaya (Zubaidillah, 2020 ).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan Islam terdapat lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam prespektif sosial dan budaya Islam.

1.    Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan tempat belajar bagi anak paling utama, dalam kesadaran beragama terutama bentuk sikap untuk dapat berbakti pada Tuhan sebagai wujud nilai hidup yang tinggi (Santoso, 2020). Di lain sisi dapat ditafsirkan, keluarga merupakan lembaga pendidikan paling tua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati. Orang tua bertangungjawab memeliharan, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Keluarga sebagai lembaga pendidikan harus menciptakan lingkungan yang dapat mendidik anak dari segi ahlak dan pandangan hidup Agamanya (Adi, 2020).

 

lingkungan keluarga dalam Islam yaitu bagaimana peran seorang ayah dan ibu untuk membentuk suasana keluarga yang bernilai Agama, dan memberikan pendidikan Islam terhadap anak, sebelum anak tersebut melanjutkan proses pendidikan ke lembaga pendidikan yang lebih jauh yaitu pendidikan formal (sekolah) (egawati Fauzi Ahmad Syawaluddin, 2021).

2.    Lingkungan sekolah

Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional terdapat penjelasan tentang Lingkungan sekolah atau yang sering disebut pendidikan formal, yaitu merupakan lembaga yang terdapat didalamnya ada guru, siswa, ruang kelas, perpustakaan, dan perangkat pendidikan lainya yang saling keterkaitan antara satu dan lainnya. Lingkungan pendidikan formal yang islami adalah bagaimana seorang guru mampu menciptakan suasana sekolah yang religius dengan harapan sekolah mampu memproduksi lulusan yang berkualitas dalam pengetahuan umum dan Agama sesuai dengan standar pendidikan Nasional (Shindy Lestari, 2021)

Guru dalam islam dapat dipahami sebagai orang yang bertangung jawab terhadap perkembangan peserta didik. Dimana tugas seorang guru dalam islam adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi kongnitif, afektif, maupun psikomotori. Guru adalah orang dewasa yang bertangung jawab untuk memberi pertolongan kepada peserta didik agar peserta didik mampu memperoleh perkembangan jasmani dan rohaninya, mampu mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri, mampu memahami tugasnya sebagai hamba Allah swt, dan sebagai mahluk sosial (umro, 2020). Maka konsep lingkungan sekolah yang islam, di dalamnya terdapat interaksi guru dan murid yang mengedepankan ahlak, peserta didik diajar untuk mengenal Allah swt, dan berusaha meneladani Rasulullah saw, serta mempraktekan nilai dan ajaran Islam.

3.    Lingkungan masyarakat

Selain lingkungan keluarga dan sekolah, dalam lingkungan masyarakat yang juga sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Masyarakat dapat diartikan dengan sekumpulan orang yang menempati suatu daerah di ikuti oleh pengalaman yang sama dan hidup sesuai tradisi serta adat yang telah di sepakati bersama. Dalam masyarakat setiap individu diajarkan untuk bersikap sesuai dengan norma (al-qur’an dan hadist), yang berlaku. Setiap anak patut belajar tentang segala bentuk norma serta ajaran-ajaran islam. Adapun cara yang harus dilakukan oleh pemimpin masyarakt adalah mengaktifkan segala fasilitas-fasilitas yang ada dalam lingkungan masyarakat seperti masjid, tempat pengajian, dan lainnya (Achmad Saeful, 2021).

Dengan kata lain lingkungan pendidikan masyarakat islam, mempunya tangungjawab mengembangkan potensi anak didik melalui pendidikan kecakapan hidup, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pemeliharaan kebudayaan Islam, serta pembentukan karakter anak didik yang sesuai dengan ajaran Islam (Bafadhol, 2017).

Mengacu pada persoalan tersebut maka lingkungan pendidikan dalam islam terdapat tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga sebaga peendidikan awal anak didik, lingkungan pendidikan sekolah dengan mengembangkan potensi diri anak didik, serta lingkungan pendidikan masyarakat dengan menyediakan lingkungan yang islami bagi anak didik.

 

Pengaruh Positif dan Negatif Lingkungan terhadap Peserta Didik

 

Keberhasilan peserta didik dalam menempuh proses pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang internal maupun eksternal. Di antara faktor eksternal adalah lingkungan pendidikan (lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat) yang jelas memiliki efek positif dan negatif. Secara umum bisa dikatakan kalau lingkungan yang baik akan berdampak positif pada hasil pendidikan, dan begitu pula sebaliknya. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Ada beberapa hadith yang memberi sinyal betapa pentingnya peran ketiga lingkungan ini bagi proses pendidikan. Yang pertama adalah hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim sebagaimana berikut:

كل مولود يولد علي الفطرة فأبواه يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya

Yahudi, atau Nashrani atau Majusi

 

 

 

Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang dengan baik. Pendidikan keluarga berfungsi sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak yang menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan moral, memberikan dasar pendidikan sosial, serta meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.

Lingkungan kedua yang punya peran dalam sukses tidaknya pendidikan adalah sekolah. Ia merupakan sarana yang secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu masyarakat semakin penting peran sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik, memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah, dan melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. Sekolah juga memberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau salah, dan sebagainya.

Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang dialami dalam masyarakat ini, telah dimulai beberapa waktu ketika anak-anak telah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas. Masyarakat, dengan demikian, memiliki beberapa fungsi positif ke peserta didik, di antaranya: (1) Mengajarkan keyakinan serta praktik-praktik keagamaan dengan cara memberikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, (2) mengajarkan bagi mereka tingkah laku dan prinsip-prinsip moral yang sesuai dengan keyakinan-keyakinan agamanya, dan (3) memberikan model-model bagi perkembangan watak. Salah satu hadith yang berbicara mengenai peran masyarakat dalam pendidikan adalah hadith riwayat Ahmad sebagai berikut:

عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تُكْسَرْ وَلَمْ تَفْسُدْ

Dari Abdullah bin Amru bi Ash bahwa ia mendengar  Rasulullah SAW bersabda : “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin itu seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik, hinggap namun tidak mematahkan dan tidak merusak”

Hadits ini menarik, karena meskipun tidak secara eksplisit berbicara mengenai peran konkrit masyarakat di dunia pendidikan, ia memberikan permisalan yang kompleks, bahwa seorang peserta didik adalah juga bagian dari komunitas yang lebih besar, yaitu komunitas masyarakat muslim yang ia tinggali. Lebah adalah makhluk komunal yang bekerja bersama-sama untuk satu tujuan. Dalam sebuah kerajaan lebah, terdapat beberapa jenis lebah dengan tugasnya masing-masing yang saling melengkapi satu dengan lain. Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang lain. Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia. Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan lingkungan masyarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri. Wallāhu Aʿlamu.

 

Kesimpulan

Lingkungan merupakan salah satu faktor yang peling penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Lingkungan yang baik akan berpengaruh positif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, begitupun sebaliknya lingkungan yang tidak baik akan memberi dampak negativ pada anak. Kaum empris, berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat ditentukan oleh lingkungan. Manusia dapat berkembang menjadi apa saja kearah yang baik maupun kearah yang buruk, sangat ditentukan oleh faktor lingkungan (Sutarto, 2019).

lingkungan pendidikan dalam islam terdapat tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga sebaga peendidikan awal anak didik, lingkungan pendidikan sekolah dengan mengembangkan potensi diri anak didik, serta lingkungan pendidikan masyarakat dengan menyediakan lingkungan yang islami bagi anak didik

Komentar

Postingan Populer