PERAN LINGKUNGAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTI ISLAM
PERAN LINGKUNGAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PERSPEKTI ISLAM
Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku
yang khas tiap individu, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan
negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat
keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya.
Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, adat
itiadat, dan estetika
Tata krama, etika, dan kreaktifitas siswa saat
ini disinyalir kian turun akibat melemahnya pendidikan budaya dan karakter
bangsa, padahal pendidikan karakter ini menjadi salah satu kurikulum pendidikan
yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah
Secara umum, seseorang sering mengalokasikan
istilah karakter dengan apa yang mereka sebut tempramen yang berarti penekanan
unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan.
Sesorang juga bisa dinilai melalui kaca mata behavior. Pada kamus
psikologi karakter diartikan sebagai kepribadian seseorang yang ditinjau dari
moralitas seseorang
Dari beberapa pengertian tersebut dapat
disimpulkan bahwa karakter merupakan sikap pribadi seseorang yang dinyatakan
dengan tindakan seseorang. Seseorang yang memiliki pribadi yang berkarakter
tidak hanya cerdas secara lahir dan batin melainkan seseorang mampu menjalankan
yang dipandang benar dan sesuai dengan norma-norma yang ada di tengah-tengah
masyarakat.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem
penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi beberapa komponen salah satunya
adalah kesadaran atau kemauan. Menurut Doni A. Koesoema, pendidikan karakter
merupakan usaha yang dilakukan secara perorangan atau individu dan sosial dalam
menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan serta kebebasan individu
itu sendiri
Dasar-dasar Pembentukan Karakter.
Merurut Agus Wibowo dalam pembentukan karakter
ada beberapa sendi karakter baik dan karakter buruk. Karakter baik dan karakter
buruk, karakter yang baik didasarkan pada
1. Sabar, maksudnya adalah menahan diri dari
kemarahan, serta menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain.
2. Kehormatan diri, selain sabar, hendaklah juga
kita mampu menjaga diri dan menjahui hal-hal yang hina.
3. Keberanian, yang berarti mendorong diri agar
berjiwa besar.
4. Adil, artinya adalah berada di tengah-tengah,
atau tidak berat sebelah.
Adapun karakter buruk yang juga didasari oleh
4 sedia diantaranya:
1. Kebodohan, yang memperlihatkan keburukan dalam
rupa kebaikan, begitu seterusnya.
2. Kezaliman, yang melakukan sesuatu tidak pada
tempatnya, yang menyalahi suatu perkara padahal seharusnya diridhai
3. Syahwat, yang mendorok diri untuk melakukan
hal-hal buruk
4. Marah, sebuah sifat yang mendorong seseorang
bersikap dengki, takabur, serta iri.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan dan karakter seseorang, faktor-faktor ini sangat krusial terhadap
perkembangan anak. Menurut
1. Konsistensi dalam mendidik: orang tua harus
konsisten terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan pada anak, hal-hal yang
enjadi ketetapan peraturan pada anak maka harus terus dijalankan.
2. Sikap orang tua dalam keluarga: dalam sebua
keluarga secara tidak langsung sikap orang tua termaksud sikap ayah pada ibu
maupun sebaliknya sangat mempengaruhi karakter anak.
3. Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut:
orang tua menjadi role modelbagi anak, sudah sepatutnya dalam hal religious
orang tua mengajarkan serta mengamalkan hal-hal baik agar bisa membentuk
karakter anak
4. Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan
norma: karena orang tua adalah panutan bagi anak maka sudah sepatutnya orang
tua juga melakukan hal-hal yang diterapkan pada anak. Bukan hanya menyuru anak
tetapi juga mencontohkan.
dari poin-poin yang telah disebutkan di atas
menunjukan bahwa pendidikan merupakan upaya dasar untuk menumbuhkan budi
pekerti pada anak. Dan tujuan pendidikan mengisyaratkan bahwa pendidikan hendak
diwujudkan dengan cita-cita peserta didik memiliki berbagai kecerdasan, baik
secara spiritual, emosional, maupun sosial.
Konsep Lingkungan dalam Pendidikan Karakter Menurut Perspektif Islam
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang peling penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Lingkungan yang baik akan berpengaruh
positif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, begitupun sebaliknya lingkungan
yang tidak baik akan memberi dampak negativ pada anak. Kaum empris,
berpendapat bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat ditentukan oleh
lingkungan. Manusia dapat berkembang menjadi apa saja kearah yang baik maupun
kearah yang buruk, sangat ditentukan oleh faktor lingkungan
“Adam
telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dza'bi dari Az Zuhriy dari Abu Salamah bin 'Abdurrahman dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata;
Nabi Shallallahu'AlaihiWasallam bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fithrah. Kemudian kedua orang tunyalah yang akan menjadikan anak itu
menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana hewan ternak yang melahirkan
hewan ternak dengan sempurna. Apakah kalian melihat ada cacat padanya”.
Hadist diatas memberi kabar bahwa, perkembangan anak dapat
ditentukan oleh pengaruh lingkungan.
Sehingga memberikan lingkingan yang baik terhadap anak sangat penting,
yaitu lingkungan yang sesuai dengan pendidikan islam.
Lingkungan merupakan sestem yang tidak bisa dilepas pisahkan antara
satu dengan lain, terdiri dari kesatuan ruang dengan semua benda, daya,
keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan prilakunya yang mempengaruhi
kelangsungan kehidupan serta kesejatraan dengan mahluk hidup lainnya. Seorang
pisikolog dari Amerika mengatakan bahwa, lingkungan pada dasarnya meliputi
semua kondisi dan alam dunia ini dengan cara-cara tertentu dapat mempengaruhi
tingkah laku individu, dan pertumbuhan perkembangan atau life processes
Lingkungan pendidikan Islam dapat mencakup lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Lingkungan yang nyaman dan mendukung terselenggaranya
suatu pendidikan yang amat dibutuhkan dan turut berpengaruh terhadap capaian
tujuan pendidikan yang di inginkan. Zakiah Darajat, mengatakan lingkungan
pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang meliputi proses berlangsungnya
pendidikan islam, alam segi sosial dan budaya
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pendidikan
Islam terdapat lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam prespektif
sosial dan budaya Islam.
1.
Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan tempat belajar bagi anak paling utama, dalam
kesadaran beragama terutama bentuk sikap untuk dapat berbakti pada Tuhan
sebagai wujud nilai hidup yang tinggi
lingkungan keluarga dalam Islam
yaitu bagaimana peran seorang ayah dan ibu untuk membentuk suasana keluarga
yang bernilai Agama, dan memberikan pendidikan Islam terhadap anak, sebelum
anak tersebut melanjutkan proses pendidikan ke lembaga pendidikan yang lebih
jauh yaitu pendidikan formal (sekolah)
2.
Lingkungan sekolah
Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan
nasional terdapat penjelasan tentang Lingkungan sekolah atau yang sering
disebut pendidikan formal, yaitu merupakan lembaga yang terdapat didalamnya ada
guru, siswa, ruang kelas, perpustakaan, dan perangkat
pendidikan lainya yang saling keterkaitan antara satu dan lainnya. Lingkungan
pendidikan formal yang islami adalah bagaimana seorang guru mampu menciptakan
suasana sekolah yang religius dengan harapan sekolah mampu memproduksi
lulusan yang berkualitas dalam pengetahuan umum dan Agama sesuai dengan standar
pendidikan Nasional
Guru dalam islam dapat dipahami sebagai orang yang bertangung jawab
terhadap perkembangan peserta didik. Dimana tugas seorang guru dalam islam
adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi
kongnitif, afektif, maupun psikomotori. Guru adalah orang dewasa yang
bertangung jawab untuk memberi pertolongan kepada peserta didik agar peserta
didik mampu memperoleh perkembangan jasmani dan rohaninya, mampu mencapai
tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri, mampu memahami tugasnya sebagai
hamba Allah swt, dan sebagai mahluk sosial
3.
Lingkungan masyarakat
Selain lingkungan keluarga dan
sekolah, dalam lingkungan masyarakat yang juga sangat menentukan keberhasilan
pendidikan. Masyarakat dapat diartikan dengan sekumpulan orang yang menempati
suatu daerah di ikuti oleh pengalaman yang sama dan hidup sesuai tradisi serta
adat yang telah di sepakati bersama. Dalam masyarakat setiap individu diajarkan
untuk bersikap sesuai dengan norma (al-qur’an dan hadist), yang berlaku. Setiap
anak patut belajar tentang segala bentuk norma serta ajaran-ajaran islam.
Adapun cara yang harus dilakukan oleh pemimpin masyarakt adalah mengaktifkan
segala fasilitas-fasilitas yang ada dalam lingkungan masyarakat seperti masjid,
tempat pengajian, dan lainnya
Dengan kata lain lingkungan pendidikan
masyarakat islam, mempunya tangungjawab mengembangkan potensi anak didik
melalui pendidikan kecakapan hidup, pendidikan keterampilan dan pelatihan
kerja, pemeliharaan kebudayaan Islam, serta pembentukan karakter anak didik yang
sesuai dengan ajaran Islam
Mengacu pada persoalan tersebut maka lingkungan pendidikan dalam
islam terdapat tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga sebaga peendidikan
awal anak didik, lingkungan pendidikan sekolah dengan mengembangkan potensi
diri anak didik, serta lingkungan pendidikan masyarakat dengan menyediakan
lingkungan yang islami bagi anak didik.
Pengaruh Positif dan Negatif Lingkungan terhadap Peserta Didik
Keberhasilan peserta didik dalam menempuh proses
pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang internal maupun
eksternal. Di antara faktor eksternal adalah lingkungan pendidikan (lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat) yang jelas memiliki efek positif dan
negatif. Secara umum bisa dikatakan kalau lingkungan yang baik akan berdampak
positif pada hasil pendidikan, dan begitu pula sebaliknya. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh
dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut
sebagai tripusat pendidikan. Ada
beberapa hadith yang memberi sinyal betapa pentingnya peran ketiga lingkungan
ini bagi proses pendidikan. Yang pertama adalah hadith riwayat al-Bukhari dan
Muslim sebagaimana berikut:
كل مولود يولد علي الفطرة فأبواه
يهوّدانه أو ينصّرانه أو يمجّسانه
Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan suci, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, atau
Nashrani atau Majusi
Keluarga merupakan lembaga
pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialamai oleh anak
serta lembaga pendidikan yang bersifat kodrati orang tua bertanggung jawab
memelihara, merawat, melindungi, dan mendidik anak agar tumbuh adn berkembang
dengan baik. Pendidikan keluarga berfungsi sebagai pengalaman pertama masa
kanak-kanak yang menjamin kehidupan emosional anak, menanamkan dasar pendidikan
moral, memberikan dasar pendidikan sosial, serta meletakkan dasar-dasar
pendidikan agama bagi anak-anak.
Lingkungan kedua yang punya
peran dalam sukses tidaknya pendidikan adalah sekolah. Ia merupakan sarana yang
secara sengaja dirancang untuk melaksanakan pendidikan. Semakin maju suatu
masyarakat semakin penting peran sekolah dalam mempersiapkan generasi muda
sebelum masuk dalam proses pembangunan masyarakat. Sekolah bertanggung jawab
atas pendidikan anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya. Sekolah membantu
orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi
pekerti yang baik, memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat
yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah, dan melatih anak-anak
memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis, berhitung, menggambar
serta ilmu-ilmu lain sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan. Sekolah
juga memberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membenarkan benar atau
salah, dan sebagainya.
Sementara itu, masyarakat
merupakan lingkungan di luar lingkungan keluarga dan sekolah. Pendidikan yang
dialami dalam masyarakat ini, telah dimulai beberapa waktu ketika anak-anak
telah lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah.
Dengan demikian, berarti pengaruh pendidikan tersebut tampaknya lebih luas.
Masyarakat, dengan demikian, memiliki beberapa fungsi positif ke peserta didik,
di antaranya: (1) Mengajarkan keyakinan serta praktik-praktik keagamaan dengan
cara memberikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan, (2) mengajarkan bagi
mereka tingkah laku dan prinsip-prinsip moral yang sesuai dengan
keyakinan-keyakinan agamanya, dan (3) memberikan model-model bagi perkembangan
watak. Salah satu hadith yang berbicara mengenai peran masyarakat dalam
pendidikan adalah hadith riwayat Ahmad sebagai berikut:
عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ
كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ
تُكْسَرْ وَلَمْ تَفْسُدْ
Dari
Abdullah bin Amru bi Ash bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya Sesungguhnya perumpamaan
seorang mukmin itu seperti lebah. Dia memakan yang baik dan mengeluarkan yang
baik, hinggap namun tidak mematahkan dan tidak merusak”
Hadits ini menarik, karena meskipun tidak
secara eksplisit berbicara mengenai peran konkrit masyarakat di dunia
pendidikan, ia memberikan permisalan yang kompleks, bahwa seorang peserta didik
adalah juga bagian dari komunitas yang lebih besar, yaitu komunitas masyarakat
muslim yang ia tinggali. Lebah adalah makhluk komunal yang bekerja bersama-sama
untuk satu tujuan. Dalam sebuah kerajaan lebah, terdapat beberapa jenis lebah
dengan tugasnya masing-masing yang saling melengkapi satu dengan lain. Secara
umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi
dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanya berbagai sumber daya pendidikan
yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal. Terdapat hubungan timbal balik
dan saling mempengaruhi antara lingkungan yang satu dengan lingkungan yang
lain. Lingkungan keluarga sebagai dasar pembentukan sikap dan sifat manusia.
Lingkungan sekolah sebagai bekal keterampilan dan ilmu pengetahuan, sedangkan
lingkungan masyarakat merupakan tempat praktek dari bekal yang diperoleh di
keluarga dan sekolah sekaligus sebagai tempat pengembangan kemampuan diri. Wallāhu Aʿlamu.
Kesimpulan
Lingkungan merupakan salah satu faktor yang peling penting dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Lingkungan yang baik akan berpengaruh
positif pada pertumbuhan dan perkembangan anak, begitupun sebaliknya lingkungan
yang tidak baik akan memberi dampak negativ pada anak. Kaum empris, berpendapat
bahwa pertumbuhan dan perkembangan manusia sangat ditentukan oleh lingkungan.
Manusia dapat berkembang menjadi apa saja kearah yang baik maupun kearah yang
buruk, sangat ditentukan oleh faktor lingkungan (Sutarto, 2019).
lingkungan pendidikan dalam islam terdapat tiga lingkungan yaitu
lingkungan keluarga sebaga peendidikan awal anak didik, lingkungan pendidikan
sekolah dengan mengembangkan potensi diri anak didik, serta lingkungan
pendidikan masyarakat dengan menyediakan lingkungan yang islami bagi anak didik

Komentar
Posting Komentar