Bulan ke Sembilan Bersama Najamudin
Langkah kaki mungkin saja kadang tak seirama.
Bercekcok pendapat.
Kau dengan isi kepalamu.
Serta aku dengan isi kepalaku.
Ternyata menyenangkan bercumbu dengan api kemarahan.
Kadang-kadan aku bertanya, pada kepala yang riuhnya bukan main.
Kaka, bisakah kita melewati 10, 20, 30, 40, 50 tahun lagi dengan debar rasa yang masih sama sejak awal hingga bulan ke sembilan ini??
Sembilan bulan berlalu, tapi hatiku masi berdebar menanti bertemu denganmu, masih sama seperti dulu.
Semoga, dadamu masih melangit dengan segala keluasannya.
Semoga dadamu masihlah seperti laut yang sabar menahan ombak-ombaknya.
Semoga juga dadamu seperti pagi, yang selalu hangat, yang hangatnya belum pernah kutemui pada dada yang lain.



Komentar
Posting Komentar